Senin, 25 Agustus 2008

The Enthusiastic Salesman


Suatu perusahaan pakaian dalam wanita (bra) mengutus seorang salesmannya ke sebuah pulau yang didiami oleh suku primitif yang terkenal sebagai suku kanibal. Betapa kagetnya ia melihat sebagian besar penduduk wanitanya tidak memakai bra. Tanpa berpikir panjang, ia langsung angkat kaki dari pulau tersebut. Kemudian melapor kepada bossnya.
Salesman 1 :” Boss, tidak ada peluang bisnis di sana. Seluruh penduduk wanita tidak ada yang menggunakan bra. Tidak ada gunanya menjual bra di sana karena pasti tidak akan ada pembelinya”.
Boss :”Oh ya...? (dengan raut wajah penuh kecewa dan kesal) Jadi sekarang bagaimana ? Apakah ada ide untuk mengatasi masalah ini ?”
(Mendengar kekesalan bossnya, salesman kedua angkat bicara).
Salesman 2 :”Bos, bagaimana jika anda memberikan kesempatan kepada saya untuk sekali lagi datang ke pulau tersebut dan melihat keadaan yang sebenarnya.”.
(Setelah berpikir agak lama, sang Boss akhirnya mengizinkan salesman kedua untuk berangkat. Hari demi hari berlalu dan sang Boss tidak mendengar sedikit kabarpun dari salesman tersebut. Ia mulai khawatir, jangan-jangan sang salesman telah disantap oleh suku primitif dalam suatu pesta barbeque. Setelah dua minggu berlalu, sang Boss tiba-tiba menerima telapon dari salesman yang dia utus. Dengan nada suara penuh antusias sang salesman berteriak...
Salesman 2 :”Bos, Bos, marketnya luar biasa...Bos”.
Boss :”Bagaimana bisa ?” (teriakan sang Bos tidak kalah antusias)
Salesman 2:”Gila Bos..., di sini seluruh wanitanya tidak ada yang pakai BH....Saya yakin, jika kita jual BH di sini pasti akan laku keras”.
Boss :’Oke, kalau begitu saya akan langsung kirim dua kontainer kesana.
Salesman 2:”Namun, masih ada satu lagi permintaan saya Bos...”.
Boss :”No problem, apa saja yang kamu minta akan saya berikan...?”
(Denga nada yang tidak kalah semangatnya sang salesman berkata...)
Salesman 2:”Saya minta cuti satu minggu lagi, Bos”.
Boss :”Kamu mau ngapain di sana?”
Salesman :”Saya ingin ”cuci-cuci” mata Bos...”
(Sambil tersenyum dan geleng kepala sang Bos menutup teleponnya.

Cara pandang kedua salesman sungguh sangat berbeda. Setiap kejadian dalam hidup ini dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda; cara pandang positif dan cara pandang negatif. Dengan sikap cara pandang positif, kita akan mendapatkan hasil yang positif pula. Sikap dan cara pandang positif ini mengarahkan kita pada pola hidup optimis dan jauh dari sikap pesimis. Jika hati dan jiwa sudah penuh dengan sikap optimis, pikiran (thought) dan perasaan (feeling) kita akan selalu mengarah pada tindakan (action) yang positif pula. Demikian sebaliknya, jika pola hidup pesimis sudah mengakar dalam hidup, kita akan memandang segala sesuatu dengan pesimis.

Tidak ada komentar: